• 11

    Jan

    Warna 15

    Malam merangkak pelan. Mulai melarut dalam hening. Dalam denyut waktu yang takkan bisa terulang. Sejenak matanya asyik menatap layar kaca. “Ah, tak ada yang seru.” Begitu katanya dalam hati. Rasa kantuk belum hadir. Masih jauh sepertinya. Kemudian, sebuah pesan masuk: A: “Walau,.cinta terbentang jarak..hanya kepercayaan yang membuat hubungan kita semakin kuat..” D: “pada akhirnya jarak dan ruang masih bisa dikalahkan oleh gelombang yg kan selalu mencari jalan untuk menyampaikan rindu dan menjaga perasaan kita berdua” A: Bagaimana jadinya bila rindu masih terkalahkan oleh jarak dan ruang? D: maka itu bukanlah perasaan yang sebenarnya. Karena bila benar, maka keduanya akan berjuang untuk bisa bertemu, meski hanya lewat isyarat sekalipun. A: Tapi, Isyarat
  • 9

    Jan

    Warna 14

    Malam beranjak pelan. Menyisakan ia dalam sunyi. Hening. Dibalik temaram sinar lampu kamar, segurat wajah tampak sekilas. Adakah kau tertidur? Atau kau mengelana mundur? “Aku sudah membiarkannya begitu saja.” Begitu gumamnya. Matanya nampak berkaca-kaca saat kalimat itu terucap setengah sadar. Kepalanya tiba-tiba menunduk. Malu? Menyesal? Kenapa? “Karena aku membiarkan ia tersesat begitu saja.” Begitu gumamnya lagi. Aku hanya bisa memandangnya. Aku ragu untuk bertanya lebih lanjut. Oh, ada apa gerangan denganmu kawan? “Aku terbuai begitu saja. Ya, sekian lama aku disana..” Gumamnya lagi. Aku semakin penasaran, tatapku semakin lekat. Menebak apa yang sedang ia katakan. Menebak ada apa dibalik gurat wajah tertunduknya. “Aku telah salah menyang
  • 2

    Jan

    Warna 13

    Siang itu ia terlihat gusar. Ada apa gerangan kawan? Cuaca di luar tampak mendung menunggu hujan. Duduk di tepian kamar, berulangkali ia menatap layar ponselnya. Owh, rupanya ia sedang galau karena itu. Hatinya sedang terbolak balik. Maju mundur cantik kalau kata syahrini. Pergi tidak. Pergi tidam, begitu pertanyaan berulang yang muncul dalam hatinya. Lalu, mendadak ia raih kembali ponselnya dan menuliskan sebuah kalimat singkat: “aku otw kesana..” Tampak terburu ia mandi dan merapihkan diri. Namun waktu mau membuka pintu kamar, tampak diluar begitu gelap dan benar saja hujan mendadak turun dengan derasnya. Ia mundur lagi dan ragu kembali datang. Apa aku tidak perlu pergi kesana? Lima menit berlalu, nampak matahari kembali memancarkan sinarnya. Ah, hujan.sesaat rupanya. Mes
  • 2

    Jan

    Warna 12

    Warna 12 Bahagia itu sederhana. Kesederhanaan yg disertai kesyukuran, itulah yang membuatnya menjadi bahagia. Betul, dan wajar bila sebagian besar memaknai kebahagiaan atas materi yang bisa dimiliki ataupun berpergian dan tinggal di hunian yang lebih dari layak. Namun, bila semua itu hanya bisa dirasa sesaat , terlebih tanpa rasa nyaman, apa masih layak disebut bahagia? Ia dihadapkan lagi di sebuah ujung jalan. Antara kesempatan berlayar ke pulau nan indah atau bersederhana dalam prinsip yang ia ucap. Kesempatan yang mungkin tidak akan datang lagi dari orang yang sama. Ingin bibir berkata iya, namun hati mengatakan tidak. Ada tidak karena hati mengatakan raganya sudah cukup lelah. Sedang bibit berkata iya, karena terbayang indahnya dunia sesaat. Pada akhirnya keraguan dan keinginan harus
  • 28

    Dec

    Warna 11

    Waktu telah menunjukan pukul 10 lewat. Sepertinya aku akan susah tidur lagi. Mengingat seharian ini aku telah cukup banyak istirahat. Iseng aku buka facebook, dan kulihat seorang kawan baru saja memposting tulisan tentang narsis membawa berkah. Sejenak aku baca tulisannya dan iseng aku tuliskan komentarku: Aku: Narsis ga salah kok. Itu kan cuma cara seseorang mengekspresikan diri. Kadang, foto bisa lebih banyak berbicara loh.. ga usah foto deh, somehow at some point, sebuah sketsa sederhana bisa menyuguhkan ribuan kata dalam pikiran yang melihatnya. Terlebih narsisnya kawan kita yang satu ini. Narsisnya bisa mendatangkan berkah yang menguntungkan. Jadi, siapa takut narsis! ;) Dia: Setujuuuu!!! foto atau gambar bisa menjelaskan lebih dari kata… Ahaiiiii narsis yg dapat hadiah itu me
  • 25

    Dec

    Warna 10

    Setibanya dikamar, ia kembali terduduk. Tercenung. Entah.. untuk kesekiankalinya ia terlarut dalam lamunan. Lamunan yang baru akan terjawab senin nanti. Perasaan takut, cemas, harap bergejolak. “Kenapa bisa begini..” begitu ujarnya dalam hati. Tergambar kembali setiap perjalanan yg telah terlewati. Dan ia hanya bisa… diam. “Tuhan, jangan biarkan sesal sebagai jawaban terakhir. Berikan aku kesempatan untuk memperbaikinya. Aku mohon..” ratap halus dalam benaknya kepada Sang Pencipta. Adalah benar kata orang bijak, bahwa sekarang, manusia baru menyadari keberadaan PenciptaNya manakala ia susah. Manakala ia didera duka, susah , atau musibah. “Tuhan, kuucap doa setulus hati agar Engkau memberikan hamba kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Untuk kembal
  • 20

    Dec

    Warna 9

    Sudah dua hari ini ia tampak gelisah. Diselimuti oleh rasa takut yang tak terkatakan. Ada apa lagi kawan? Semoga kau baik baik saja. matanya jelas berkata sebaliknya. Rasa takut yang dalam jelas terpancar. Rasa takut yang belum pernah dilihat dan dirasakan sebelumnya. Berulangkali ia menari nafas. Keringat sesekali menetes. Oh, katakanlah, apa yang sedang kau alami? Ia tampak mengetik beberapa pesan. Ah, aku semakin penasaran. Lalu, aku segera check status bbm-nya. Rupanya ia memperbaharui statusnya. Begini yang ia tuliskan: “allahumma afinii fii badani..” Aku semakin tak kuasa menahan rasa ingin tahuku. Bukankah ia termasuk yang jarang sakit. Dan senyum itu, sudah dua hari ini tak terlihat. Beratkah sakit yang derita? Aku beranikan untuk mengirim pesan singkat kepadanya:
  • 18

    Dec

    Warna 8

    Sore itu, terhenyak dari sebuah lamunan panjang. Ia menatap kosong keluar dari jendela kantornya. Gedung gedung kokoh yang tampak seperti tak menarik bagianya. Ah, ada apa gerangan wahai sang pengamat? Aku sedang larut dalam tanya kawan. Begitu jawabnya. Tanya apakah yang menyebabkanmu gelisah? Maukah kau berbagi denganku? Ia mengalihkan pandangan sejenak. Lalu duduk bersandar di kursi kerjanya. Helaan nafas terdengar. Sedang aku hanya menatap dan siap menunggunya bicara. Apa kita harus menerima kehadiran setiap orang yang datang? Ujarnya.. Memangnya kenapa? Apa kau baru bertemu dengan seseorang (lagi)? Iya, aku baru saja berbicara. Tapi aku belum bertemu. Sudah dua kali ia mengajakku bertemu. Pertemuan pertama, aku tidak bisa datang karena macet parah melanda semua jalanan di se
  • 14

    Dec

    Warna 7

    Warna 7 Halaman muka “fb”-nya tampak begitu familiar. Ada foto wajah yang sedang tersenyum lepas. Dengan rambutnya yang ikal, wajah bulat, gigi kelinci, syal hangat membalut leher, serta secarik kertas. Tak bosan ia menatapnya. Berulangkali di refresh halaman muka media sosial itu, namun dengan sendirinya jari itu mencari kembali foto tersebut. Tampak jelas terbaca bahwa yang ada di foto tersebut sedang melakukan perjalanan pulang ke tanah air. Merasakan lelan bahagia, karena penantiannya panjangnya terbayar sudah. Gelar sarjana, master dan doctor berhasil ia selesaikan di negeri sakura. Sang penatap tampak tersenyum. Ada keharuan. Ada kegetiran. Ada kebanggaan disorot matanya. Tapi juga ada jarak yg membuatnya tersadar. Jarak tak kasat mata yang menghantarkan pikirannya me
  • 14

    Dec

    Prolog

    Cinta dalam kanvas adalah sebuah rangkain monolog tentang pergulatan bathin seseorang. Kita sebut saja “dia”. Dia yang terlahir dari mimpi sederhana masa kecilnya, namun menjelang dewasa ia menemukan banyak hal tidak sederhana yang melahirkan banyak tanya untuk bisa terjawab. Pertanyaan pertanyaan itu pada akhirnya bermuara di satu pertanyaan utama. Pertanyaan sederhana tentang mimpi masa kecilnya. Simak dan resapi setiap warna yang ia coba sapukan dalam tulisan / kanvas ini. :)
- Next

Author

Follow Me